Home » » Treasuring Our Loved Ones

Treasuring Our Loved Ones

Written By Rizki A. Noviar on Saturday, September 14, 2013 | 17:47

Indonersia - Katanya.. di antara orang yang paling sering kita sakiti itu, sebetulnya justru adalah orang-orang terdekat yang paling kita sayangi. Oh, tunggu sebentar. Ini mungkin sebuah bentuk invers dari kalimat serupa yang sering kita dengar, bahwa “orang yang paling sering menyakiti kita, justru adalah orang yang paling mencintai kita”.

Apakah keduanya benar-benar bentuk invers satu sama lain? Haha.

You must be wondering what am I about to say.

Kalau kita lihat kalimat yang kedua, sebetulnya bisa jadi itu persepsi. Oh, blame every melancholic thoughts on people’s brain. Setiap orang pasti punya sisi itu. Tapi sebuah persepsi, bagaimanapun dramatisnya, tetaplah hanya sebuah persepsi. Almost delusive. Which is not so important to play a role on your happy life.

Sebaliknya, yang pertama bisa jadi tentang kenyataan. Kita berbicara tentang bagaimana sikap kita kepada orang lain, to our beloved ones. Seringkali kita dekat dengan seseorang, akrab dengannya, tapi kemudian secara tidak sengaja melupakan hak-haknya. Bisa jadi bukan karena kita tidak peduli, tidak sayang, atau tidak mau. Tapi karena kita tidak menyadarinya.

Dekat dengan seseorang, pada takaran yang lebih daripada orang lain pada umumnya, kadang membuat kita sampai pada zona nyaman. Nyaman untuk berbicara, nyaman untuk becanda, hingga nyaman untuk menampilkan diri kita pada tingkat manner terendah yang kita punya.

Buruk kah itu? Tidak juga, menurut saya.

Sejatinya kita memang membutuhkan seseorang – jika bukan beberapa – yang mampu memberi kita suasana nyaman untuk menjadi diri sendiri seutuhnya di hadapan mereka. Bahkan, bagi saya, itulah salah satu hal terbaik dalam persahabatan. Tapi tentu setiap sikap harus punya batasan.

Maka dalam setiap kurun waktu tertentu, berhentilah untuk merenung.

Sudahkah sikap kita baik kepadanya? Sudahkah saya memenuhi hak-haknya dan menjaga perasaannya agar tetap pada suasana hati yang senantiasa baik?

Merenung itu perlu, dalam setiap jenak hubungan kita dengan seseorang.

Jangan sampai kedekatan dan rasa nyaman itu membuat kita tanpa sadar berpikir, “saya bisa bersikap sesuka saya kepadanya, toh kami baik-baik saja.”

Definitely not.
Your supposedly great relationship won’t fine anymore if you stop wondering.

Bertanyalah pada diri sendiri, berpikirlah banyak hal tentang masa-masa yang sudah terlewat. Karena setiap kita adalah manusia, tentu saja kesalahan itu selalu menjadi niscaya. Meminta maaf adalah hal yang baik, tapi mempersiapkan diri untuk selalu bersikap mulia kepada mereka, pada waktu-waktu mendatang, adalah hal yang jauh lebih baik.

Hei, kita tidak pernah tahu kapan takdir akan memisahkan kita dengan orang-orang yang sesungguhnya kita sayangi. Setiap mereka adalah ‘titipan’ dalam hidup kita. Jika kita menyia-nyiakannya, tentu Tuhan akan dengan senang hati mengambil kembali titipan-Nya untuk dijaga dengan lebih baik disisi-Nya.

Ini sesederhana bagaimana kamu menampilkan senyum terbaik di wajahmu, juga menghadapkan wajah dan tubuhmu seluruhnya, setiap kali kamu berbicara kepadanya. Persis seperti yang Rasul lakukan kepada setiap sahabatnya.

Juga sesederhana menjawab salam, memenuhi undangan, memberi motivasi, hingga bahkan dari yang terendah : mendoakannya.

* * *
Jika bukan kamu, maka akulah yang akan memulainya. Meski mungkin akan terus terasa sakit pada awalnya. Tapi toh, hidup ini pada akhirnya adalah kompetisi untuk menjadi yang terbaik. Dan kompetisi akan selalu melahirkan pemenang.
“Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”
- HR Bukhari dan Muslim

“Tidak ada sesuatu yang diletakkan pada timbangan hari kiamat yang lebih berat daripada akhlak yang mulia, dan sesungguhnya orang yang berakhlak mulia bisa mencapai derajat orang yang berpuasa dan shalat.” – HR Tirmidzi
Share this article :

1 comments:

kata pepatah: "TAK KOMEN TANDA TAK MAMPU"

Mari saling membantu sesama blogger dengan memberikan komentar yang baik dan benar. Jika ingin bersaing di halaman pertama Hasil Pencarian Search Engine, mari kita lakukan persaingan sehat dengan tidak menghancurkan blog blogger lain melalui komentar spam.

Terima Kasih Sobat Sudah:
1. Berkomentar Dengan Sopan
2. Tidak Memasukkan Link Aktif Dalam Form Komentar
3. Berkomentar Sesuai Artikel/Postingan

Admin akan menghapus komentar yang tidak sesuai dengan 3 point di atas!

Coretan

 
Support : Indonersia Center | Rizki Viar |
Copyright © 2013. Indonersia Center - All Rights Reserved
Template re-design by Indonersia Center
Proudly powered by Blogger