Home » , » Diagnosa ADHD Dengan Gelombang Otak

Diagnosa ADHD Dengan Gelombang Otak

Written By Rizki A. Noviar on Monday, September 23, 2013 | 22:17

Indonersia - Attention Deficient Hyperactivity Disorder (ADHD) mempengaruhi  11% anak-anak berusia 4-17 tahun, dan jumlah yang terdiagnosa terus meningkat. Anak-anak yang menderita ADHD mungkin terlihat hiperaktif, dan dapat bersifat impulsif dalam tindakan-tindakannya.  Anak-anak dengan ADHD yang ditangani dengan baik dapat mengalami masalah substansial pada hubungan pribadi mereka, prestasi sekolah, dan juga dapat mengalami masalah yang lebih serius pada saat dewasa. Menurut riset terkini, lebih dari sepertiga anak-anak yang mengalami autisme  juga mungkin mengalami ADHD.

Diagnosa ADHD Dengan Gelombang Otak http://indonersiacenter.blogspot.com/
Secara tradisional diagnosa ADHD dilakukan melalui proses wawancara secara psikologis dan medis, dan juga pengumpulan informasi dari lingkungan sekitar (misal dari guru-guru sekolah), serta observasi langsung terhadap perilaku seorang anak.

Pada saat ini sebuah pengujian akan  mengubah baagaimana sebuah diagnosa ADHD dilakukan. FDA menyetujui NEBA System, yaitu sebuah pengujian atas gelombang otak, sebagai sebuah alat yang bisa digunakan untuk membantu dalam diagnosa ADHD.

NEBA, singkatan dari Neuropsychiatric EEG-Based Assessment Aid, yaitu menganalisa gelombang otak dengan menggunakan teknologi electroencephalograph (EEG). EEG mencatat impuls elektrik yang dihasilkan oleh sel-sel syaraf otak, dan membantu menentukan tipe gelombang otak dan frekuensinya.  EEG sudah umum digunakan di rumah sakit-rumah sakit untuk memonitor pola gelombang otak selama tidur dan gangguan kejang-kejang.

Pengujian NEBA adalah non invasif dan relatif cepat untuk dijalankan, biasanya mengambil waktu antara 15-20 menit.  Ilmu pengetahuan yang ada dibelakang pengujian ini terletak pada proses analisis proporsi dari dua tipe yang berbeda dari gelombang otak, yaitu gelombang beta dan theta.  Riset telah menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami ADHD memiliki rasio lebih tinggi pada gelombang theta-nya ketimbang gelombang beta-nya ketika dibandingkan dengan anak yang tidak menderita ADHD.

Pada studi riset yang diserahkan kepada FDA, NEBA didemonstrasikan dapat memperbaiki akurasi dari diagnosis ADHD ketika digabungkan dengan pengujian klinis, dibandingkan dengan sebuah  pengujian klinis sendiri.  Akan tetapi para ahli tetap berhati-hati, dan menyatakan bahwa NEBA mungkin merupakan sebuah bantuan yang berguna untuk mendiagnosis, tetapi tidak dapat digunakan dalam isolasi, melainkan harus digabungkan dengan pengujian psikologis dan medis secara menyeluruh.
Share this article :

8 comments:

  1. artikel yang sangat bagus gan

    ReplyDelete
  2. artikelnya sangat menarik gan , terimakasih udah sharing ya !!

    ReplyDelete
  3. artikelnya bagus sekali gan ,, jadi pengen belajar sama agan biar blog saya juga bisa seperti punya agan hehe

    ReplyDelete
  4. makasih banyak gan infonya ,, sangat bermanfaat sekali

    ReplyDelete
  5. info yang sangat menarik gan ,,
    blogwalking nih .

    ReplyDelete

kata pepatah: "TAK KOMEN TANDA TAK MAMPU"

Mari saling membantu sesama blogger dengan memberikan komentar yang baik dan benar. Jika ingin bersaing di halaman pertama Hasil Pencarian Search Engine, mari kita lakukan persaingan sehat dengan tidak menghancurkan blog blogger lain melalui komentar spam.

Terima Kasih Sobat Sudah:
1. Berkomentar Dengan Sopan
2. Tidak Memasukkan Link Aktif Dalam Form Komentar
3. Berkomentar Sesuai Artikel/Postingan

Admin akan menghapus komentar yang tidak sesuai dengan 3 point di atas!

Coretan

 
Support : Indonersia Center | Rizki Viar |
Copyright © 2013. Indonersia Center - All Rights Reserved
Template re-design by Indonersia Center
Proudly powered by Blogger