Home » » Betapa Sesungguhnya

Betapa Sesungguhnya

Written By Rizki A. Noviar on Sunday, September 15, 2013 | 16:58

Indonersia -


Dan bila kau telah sampai pada ujung lautan, beritahu pada senja segala rasa yang membeku meski waktu tetap berlalu. Lalu leburlah kau bersama ombak, bersama semua rasa yang tak terucap


Mei kemarin sudah cukup bingung ketika menimbang, apa ya yang akan diberikan. Jam tangan, sudah punya. Dress? Pakainya sesekali saja. Ah, akhirnya memutuskan memberi apa yang saya suka saja, buku. Tapi dibaca ga, ya? Dia kan sibuknya luar biasa.

Ah, ya sudahlah. Buku saja. Tapi belum selesai perkara, nanti memberikannya bagaimana? Haa..malu..
Apa dipaketin aja? Atau diam-diam diletakkan di depan pintu? Atau..



Betapa Sesungguhnya http://indonersiacenter.blogspot.com/



Setelah bertemu dan mengobrol dengan dia dan 2 sahabatnya
Yak, dia menyeletuk
"jam segini waktunya, makan nih?" dia bilang
glek..
"iya, iya,, " saut rekannya
"ditraktir kan nih critanya", rekan satunya menimpali
"Hmmm..oke deh.."
ya, singkatnya begitu.

Mungkinkah ini waktu yang tepat untuk memberikan.

Di perjalanan masih saja terpikirkan. Bagaimana ya cara memberikannya? Ah, membayangkannya saja jantungku sudah berdegup lebih kencang.

Lalu sampailah di tempat makan. Seperti biasa kita berbincang tentang kabarmu, kabarku, sebenarnya lebih tepatnya ceracau panjang tentang kabar mereka. Dan seperti biasa juga, kau akan membalas ceracau panjang itu dengan satu atau dua celetukan yang "lucu" dan "menyenangkan".

Dan  di tengah ceracuan panjang itu tiba saatnya sholat magrib, kami bertiga berangkat sholat (tanpa dia yang berhalangan).

Setelah sholat aku kembali ke tempat makan duluan daripada ke-2 temannya. Hadiahnya? Lupa? Tentu saja tidak, hanya saja aku berusaha mencari momen yang tepat- sebenarnya sih menunggu keberanian yang entah mengapa sampai waktu temannya kembali tak kunjung datang-. Rangkaian kata yang sudah tersusun rapi di kepala, mendadak buyar seketika.

Hadiah itu masih tersimpan rapi di dalam tas. Kemudian, ketika tiba saatnya aku harus benar-benar pergi dan sudah berpikir, "ah, mungkin waktunya memang bukan saat ini, mungkin lain kali.."

Dan akhirnya aku memberinya sekotak kue (sebagai ganti hadiah), dia tersenyum menerimanya sambil berkata, "wah, buat siapa ini sebenarnya? Hehe."
dan akupun menjawab sekenanya, "Oh, tadi kebetulan kue nyisa, jadi buat kamu aja deh.."


:')
yah begitulah, mungkin karena kita sama-sama sanguinis agak geli jika harus beromantis-romantis.
Tapi percayalah, tak pernah absen namamu kueja dalam doa. 


Ingin kugantungkan cintaku pada bintang 
agar kau dapat melihatnya ketika langit berubah kelam
atau kugumpalkan menjadi awan
agar kau dapat merasakannya dalam setiap rintik hujan
atau kubisikkan saja pada angin
agar engkau tahu betapa aku rindu


Spesial untuk gadis pertama yang dengan suksesnya menempati ruang yang teramat besar pada hati saya,
Barakallahu..
4 tahun sudah
semoga apa-apa yang telah silam dan apa-apa yang akan menjelang dipenuhi keberkahan
:')
maafkan sahabatmu ini yang sering sekali menyusahkan


 
kau dengarlah..
betapa sesungguhnya kumencintaimu
kan kubuktikan..
kumampu penuhi maumu 


:')
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

kata pepatah: "TAK KOMEN TANDA TAK MAMPU"

Mari saling membantu sesama blogger dengan memberikan komentar yang baik dan benar. Jika ingin bersaing di halaman pertama Hasil Pencarian Search Engine, mari kita lakukan persaingan sehat dengan tidak menghancurkan blog blogger lain melalui komentar spam.

Terima Kasih Sobat Sudah:
1. Berkomentar Dengan Sopan
2. Tidak Memasukkan Link Aktif Dalam Form Komentar
3. Berkomentar Sesuai Artikel/Postingan

Admin akan menghapus komentar yang tidak sesuai dengan 3 point di atas!

Coretan

 
Support : Indonersia Center | Rizki Viar |
Copyright © 2013. Indonersia Center - All Rights Reserved
Template re-design by Indonersia Center
Proudly powered by Blogger