Home » » Tolong Jemput Aku

Tolong Jemput Aku

Written By Rizki A. Noviar on Tuesday, February 19, 2013 | 13:22

 
 
 
Another summer day
Has come and gone away
But I wanna go home ..

Hai kamu,

Kamu apa kabar? Aku tidak tahu lagi bagaimana keadaanmu (yang sebenarnya) sekarang. Terlalu banyak rasa, terlalu banyak warna, dan aku takut. Aku takut merasakan sesuatu yang tidak ingin aku rasakan. Aku tidak ingin melihat warna yang tidak aku inginkan. Jadi aku memilih menghindarimu. Yang jelas aku tahu, kamu masih hidup. Masih berusaha bersuara, menyanyikan mimpi-mimpi meski realita terus menggusur keberadaanmu.

Kamu tahu, waktu berganti dengan cepat belakangan ini. Aku merasa dilempar kesana kemari. Aku merasa semuanya menjadi tiba-tiba. Tiba-tiba siang, tiba-tiba malam, tiba-tiba pagi. Waktu seakan berlari, sedang aku tak ingin beranjak. Disini nyaman, kamu tahu itu. Waktu seakan menghukumku, aku yang tidak bisa berbuat begitu banyak. Tidak mau tepatnya. Terlalu takut. Dia menghukumku dengan membiarkanku tertinggal. Atau aku yang sedang menghukum diri sendiri? Atau aku sendiri yang tak mau berlari. Aku bingung, kamu pasti tahu. Kamu mengenalku, begitu baik. Meski aku kini semakin tidak mengenalimu, atau pura-pura tidak mengenalimu. Semua kata-kata ‘bertarunglah satu ronde lagi’ itu benar-benar membuatku jungkir balik.


May be surrounded by
A million people I
Still feel all alone
I just wanna go home
Oh, I miss you, you know

Dan malam ini, aku ingin mengakui satu hal padamu. Aku merindukanmu. Kamu? Apakah kamu masih merindukanku yang sekarang? Yang semakin jauh dari sosok ideal yang selalu kamu idam-idamkan. Aku merindukanmu. Suara-suaramu tentang mimpi. Suara-suaramu tentang jangan menyerah. Kata-katamu tentang terus melangkah. Kata-katamu tentang menjadi diri sendiri. Aku merindukan itu. Kamu yang menengadah tanpa takut akan matahari. Aku ingin pulang, ke tempatmu. Semua terasa melelahkan. Tapi aku tak ingin kamu melihat aku yang seperti ini. Kamu selalu membayangkan bertemu aku yang bersinar dan sekarang aku redup. Aku tidak ingin membuatmu kecewa.

Kamu selalu memandangku dengan yakin, aku bisa. Kamu selalu berkata aku bisa, selama aku berusaha. Tapi nyatanya sekarang aku tidak berusaha untuk bisa, aku berusaha untuk menghindar. Kamu takkan suka. Tapi aku ingin pulang. Bolehkah aku pulang sekarang?


And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just stepped outside
When everything was going right

Aku ingin kembali menemanimu menatap matahari. Tanpa takut. Karena setelah teriknya siang akan ada senja dan pagi yang menenangkan. Aku ingin kembali menemanimu berteduh di bawah hujan. Tanpa kegelisahan, karena kita sama-sama mencintai rinainya.
 
Aku ingin kembali menjadi sederhana tanpa harus (takut) memikirkan semua resiko yang harus ku tanggung atas semua keputusanku. Aku ingin kembali berani melangkah, tanpa perlu takut tersesat. Tanpa perlu takut tak diterima. Karena pada akhir hari, kamu akan selalu menerimaku. Akan ada orang-orang yang menerimaku. Dan karena dalam keadaan tersesat sejauh apapun, kamu sebenarnya selalu tahu aku ada di mana. Kamu selalu ada, memanggilku pulang. Memberitahuku jalan yang benar. Akulah yang bebal, manja, tidak ingin jalan sendirian. Padahal aku tak pernah sendiri, karena kamu selalu ada. Aku hanya terlalu takut.


Let me go home
I’ve had my run
Baby, I’m done
I gotta go home

Aku takut kenyataan akan membawaku ke tempat yang tak ku inginkan. Aku takut waktu akan meninggalkanku sendirian. Aku takut semua mimpi itu pada akhirnya akan menguap tanpa bekas. Jika mimpi itu menguap, lalu aku harus bagaimana? Kamu dan aku tahu membangun mimpi itu tidak mudah. Mereka yang sejak kecil tahu mimpinya seperti apa takkan mengerti kita. Kita yang memerlukan waktu untuk menyadari apa yang benar-benar kita inginkan, ya, kita. Aku dan kamu. Dan jika pada akhirnya tahun-tahun menyusun huruf menjadi mimpi itu terbuang sia-sia, lalu ke depannya kita harus bagaimana? Karena itulah tanpa sadar aku memilih berhenti. Aku memilih jatuh seperti dedaunan, lalu mengalir mengikuti arus. Aku tidak ingin mendayung, jika akhirnya aku takkan sampai ke tempat tujuan. Aku tidak ingin merasa kecewa. Aku takut. Tapi aku salah, aku tahu itu. Kamu selalu mengingatkanku setiap saat, bahwa aku harus mendayung. Tapi semuanya berat, kamu mengerti itu. Semuanya berat. Dan aku sendirian. Kita selalu sendiri.

Aku ingin pulang, sungguh aku ingin pulang. Oleh karena itu aku menulis semua ini untukmu. Aku ingin kamu memaksaku pulang. Tolong jemput aku. Tolong antar aku pulang. Ajari aku lagi tentang berusaha lebih keras. Ajari aku lagi tentang penyesalan yang lebih menyakitkan. Ajari aku lagi untuk tegar. Ajari aku untuk kokoh. Aku tak ingin jatuh, aku tak ingin rapuh. Aku tak ingin lumpuh. Aku ingin berlari, bersamamu, mengejar mimpi. Aku ingin bersama denganmu menatap matahari bersenang di bawah hujan. 
Tolong, jemput aku pulang..


Dengan segala sisa kesadaran yang aku punya,

Aku, 
kamu yang lainnya…
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

kata pepatah: "TAK KOMEN TANDA TAK MAMPU"

Mari saling membantu sesama blogger dengan memberikan komentar yang baik dan benar. Jika ingin bersaing di halaman pertama Hasil Pencarian Search Engine, mari kita lakukan persaingan sehat dengan tidak menghancurkan blog blogger lain melalui komentar spam.

Terima Kasih Sobat Sudah:
1. Berkomentar Dengan Sopan
2. Tidak Memasukkan Link Aktif Dalam Form Komentar
3. Berkomentar Sesuai Artikel/Postingan

Admin akan menghapus komentar yang tidak sesuai dengan 3 point di atas!

Coretan

 
Support : Indonersia Center | Rizki Viar |
Copyright © 2013. Indonersia Center - All Rights Reserved
Template re-design by Indonersia Center
Proudly powered by Blogger