Home » » Pengaruh Rokok Pada Kesehatan Kulit

Pengaruh Rokok Pada Kesehatan Kulit

Written By Rizki A. Noviar on Monday, February 11, 2013 | 16:26

Beberapa fakta berikut menjelaskan mengapa merokok tidak dianjurkan untuk kesehatan dan kecantikan jaringan kulit:


Pengaruh merokok terhadap rona kulit

Saat Anda merokok, substansi-substansi racun semacam karbon monoksida, nikotin dan ammonia serta beberapa gas racun lain dalam jumlah yang lebih kecil akan ikut terhisap dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah. Nikotin yang terserap ke dalam sirkulasi akan memicu plak-plak di dinding pembuluh darah, sehingga memperkecil lebar kaliber pembuluh-pembuluh kapiler termasuk pembuluh-pembuluh kapiler halus yang mengalir ke jaringan kulit.

Sementara itu, di dalam sirkulasi darah hemoglobin akan lebih condong mengikat karbon monoksida 200 x lebih kuat dibandingkan ia mengikat oksigen, sehingga kadar karbon monoksida di dalam darah semakin lama semakin lebih tinggi daripada kadar oksigen dan sel-sel jaringan (termasuk jaringan kulit) akan ‘tersengal-sengal’ karena kekurangan oksigen untuk hidupnya. Kadar oksigen yang rendah di dalam darah membuat ‘permintaan’ oksigen (oxygen demand) sel dan jaringan semakin tinggi sehingga otak akan meregulasi respons berupa pengerutan ukuran pembuluh darah (vasokonstriksi) agar laju pengantaran oksigen ke sel dan jaringan menjadi lebih cepat.

Kedua hal di atas (pembuluh-pembuluh kapiler halus kulit berkurang kalibernya akibat plak serta mengerut ukurannya) ditambah lagi jumlah darah yang mengalir ke kulit justru darah yang kekurangan oksigen, mengakibatkan warna kulit kehilangan rona menjadi pucat dan kurang segar. Adanya hemoglobin yang terikat dengan karbon monoksida di dalam sirkulasi darah ke kulit memperburuk gambaran kulit menjadi lebih gelap sedikit kekuningan (yellowish grey).

Selain perubahan rona dan warna kulit, kulit perokok biasanya lebih kering dibandingkan kulit normal. Hal ini diakibatkan asap panas yang dilepaskan saat oleh rokok kemudian berkontak dengan kulit, terutama kulit wajah.


Pengaruh merokok terhadap kerutan wajah

Saat Anda terbuai dalam nikmatnya menghirup rokok Anda dalam-dalam, secara tidak sadar Anda akan mengernyitkan sudut-sudut luar mata Anda dan juga mengatupkan bibir dalam-dalam. Kedua aktivitas tersebut memperburuk/mempertegas gambaran kerutan-kerutan kulit pada sudut luar mata dan juga kerutan-kerutan kulit di sekitar bibir. Untuk Anda yang memutuskan ingin melakukan prosedur peremajaan wajah, hal ini tentunya menjadi kontradiksi: di saat Anda akan berepot-repot menjalani prosedur operatif, Anda justru tidak menghindari hal-hal yang memperburuk kerutan yang ada.


Pengaruh merokok terhadap penuaan dini

Dalam memproses 1 batang rokok, tubuh manusia mengkonsumsi 35 mg vitamin C. Vitamin C adalah vitamin tidak stabil dan mudah terdegradasi. Kecukupan vitamin C didapatkan tubuh hanya dari konsumsi makanan, vitamin ini tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh. Salah satu fungsi vitamin C adalah mempertahankan mutu dan keutuhan jalinan serat kolagen kulit. Kolagen adalah serat-serat protein kulit yang menentukan tampilan kulit mulus, kencang dan awet muda. Berkurangnya vitamin C, membuat jalinan-jalinan serat kolagen terburai sehingga membuat gambaran kerutan prematur di beberapa tempat khas seperti di sudut mata dan di sekitar mulut.


Pengaruh merokok terhadap penyembuhan luka

Untuk penyembuhan luka yang baik diperlukan 2 faktor, yaitu faktor yang berasal dari dalam (dari lukanya sendiri) serta faktor yang berasal dari luar (dari lingkungan). Faktor yang berasal dari dalam termasuk di antaranya adalah oksigenasi jaringan yang baik, sementara faktor dari luar adalah kelembaban di sekitar luka yang optimal.

Seperti diuraikan di atas, bahwa merokok akan mengakibatkan oksigenasi jaringan yang buruk pada jaringan normal. Pada jaringan yang mengalami perlukaan, misalnya jaringan yang mengalami sayatan operasi, kebutuhan oksigen justru menjadi lebih tinggi daripada kebutuhan normal. Karena itu sel-sel jaringan pada luka operasi orang yang merokok akan ‘tersengal-sengal’ relatif lebih berat karena kekurangan oksigen yang diharapkan justru mendapat sediaan kadar oksigen yang rendah di dalam aliran darah. Oleh karena itu, risiko kematian sel-sel kulit dan/atau jaringan bawah kulit menjadi lebih serius. Adanya jaringan yang non-vital akan memudahkan tumbuhnya infeksi kuman kulit, dan kedua kondisi tersebut akan sangat mengancam hasil akhir penyembuhan luka operasi.

Kulit perokok yang biasanya lebih kering dibandingkan kulit normal akan lebih memperburuk penyembuhan. Kulit yang kering relatif lebih mudah terpecah-pecah, sehingga masa penyembuhan luka menjadi sangat memanjang.
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

kata pepatah: "TAK KOMEN TANDA TAK MAMPU"

Mari saling membantu sesama blogger dengan memberikan komentar yang baik dan benar. Jika ingin bersaing di halaman pertama Hasil Pencarian Search Engine, mari kita lakukan persaingan sehat dengan tidak menghancurkan blog blogger lain melalui komentar spam.

Terima Kasih Sobat Sudah:
1. Berkomentar Dengan Sopan
2. Tidak Memasukkan Link Aktif Dalam Form Komentar
3. Berkomentar Sesuai Artikel/Postingan

Admin akan menghapus komentar yang tidak sesuai dengan 3 point di atas!

Coretan

 
Support : Indonersia Center | Rizki Viar |
Copyright © 2013. Indonersia Center - All Rights Reserved
Template re-design by Indonersia Center
Proudly powered by Blogger