Home » » Belajar Memposisikan Perasaan

Belajar Memposisikan Perasaan

Written By Rizki A. Noviar on Monday, January 28, 2013 | 14:16

Ya, perasaan. Perasaan apa saja. Sedih, senang, cinta, benci, galau, tenang, marah, dendam, semangat, cemburu, ah..semuaaanya.

Semua manusia pasti pernah merasakan segala jenis perasaan itu. Hanya saja, yang menjadi pembeda, pembeda yang sangat-sangat nyata, terletak pada bagaimana setiap diri memposisikan perasaan-perasaan tadi.

Bahagia misalnya. Ada yang bahagia ketika ia mendaki gunung, ada yang bahagia ketika berbelanja, bahkan ada yang bahagia ketika dugem atau joget jedag-jedug ga jelas di bar atau diskotik. Tapi justru ada juga yang bahagia ketika bisa menambah hapalan Quran-nya, meski seayat- dua ayat saja. Ada yang justru bahagia ketika sepanjang hari di musim panas berpuasa dan sepanjang malam di musim dingin begitu lekat dengan shalat malam.

Tentang rasa iri juga. Ada yang dunianya menjadi sempit jika melihat yang lain punya kendaraan baru, rumah baru, pakaian baru, dan sebagainya. Ada juga yang menjadi tak nyaman jika yang lain mendapat jabatan atau kebahagiaan. Namun ada juga, yang iri pada saudaranya yang bersedekah di pagi hari hingga ia pun mengusahakan diri agar dapat bersedekah juga (padahal bisa jadi siang hingga malam ia juga telah banyak sedekah). Atau ada juga yang merasa resah kalau saudaranya lebih lelah dalam berdakwah sehingga dirinya pun semakin awas menanti peluang beramal.

Lalu tentang kebanggaan. Ada yang bangga dengan koleksi berlian, segala bentuk perhiasan, kecantikan, ketampanan, pendidikan yang tinggi, gelar , penghargaan, maupun jabatan. Namun ada juga yang bangga karena tak memiliki mata, yang dengannya ia merasa lebih dekat dengan Allah dan jauh lebih terjaga dari dosa.

Ya, begitulah.
Maha Suci Allah yang telah menciptakan perasaan-perasaan itu
hanya saja memang diri ini yang harus lebih pandai memposisikannya, lebih teliti melihat kemana semua seharusnya bermuara..

Jadi malu pada Rasulullah dan para sahabat, membaca kisah mereka..betapa, betapa tergambar jelas bahwa perasaan-perasaan mereka begitu berorientasi akhirat..



Ibnu Mas'ud berkata pada murid-muridnya, yang merupakan generasi Tabi'in, generasi setelah sahabat.
Berkata kurang lebih seperti ini:
"Kalian tidak akan pernah bisa menyamai para sahabat"
Pernyataan ini mengundang tanya bagi murid-murid, "Mengapa Wahai Ibnu Mas'ud?"
"Karena para sahabat itu teramat zuhud pada dunia dan sangat besar hasratnya pada akhirat"

betapa jauuuh, ya Rabb :'(
Share this article :

1 comments:

  1. menarik nih,ane posisikan perasaan dg puisi komrn back y

    ReplyDelete

kata pepatah: "TAK KOMEN TANDA TAK MAMPU"

Mari saling membantu sesama blogger dengan memberikan komentar yang baik dan benar. Jika ingin bersaing di halaman pertama Hasil Pencarian Search Engine, mari kita lakukan persaingan sehat dengan tidak menghancurkan blog blogger lain melalui komentar spam.

Terima Kasih Sobat Sudah:
1. Berkomentar Dengan Sopan
2. Tidak Memasukkan Link Aktif Dalam Form Komentar
3. Berkomentar Sesuai Artikel/Postingan

Admin akan menghapus komentar yang tidak sesuai dengan 3 point di atas!

Coretan

 
Support : Indonersia Center | Rizki Viar |
Copyright © 2013. Indonersia Center - All Rights Reserved
Template re-design by Indonersia Center
Proudly powered by Blogger