Home » » Perawat Setengah Dokter

Perawat Setengah Dokter

Written By Rizki A. Noviar on Saturday, September 8, 2012 | 06:56

Indonersia - Membaca judul diatas, masyarakat umum atau bahkan anda sendiri beranggapan bahwa perawat sudah memiliki kemampuan mendekati dokter, ada yang berpikir perawat sebagai asisten dokter, atau perawat yang sudah mau naik peringkat jadi dokter atau bahkan ada yang tidak mengerti perbedaan perawat dengan dokter. Kita telah mendeklarasikan profesi kita sejajar dengan profesi lain seperti halnya dokter, apoteker dll.

Tetapi pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang masih memanggil kita dengan sebutan "dokter". Sebagian perawat mungkin senang dipanggil seperti itu, bahkan (dibeberapa Balai Pengobatan Umum)a da juga yang malah mengaku-ngaku sebagai dokter, sehingga muncullah istilah setengah dokter.

Inilah salah satu alasan mengapa profesi perawat tidak kunjung muncul kepermukaan. Perawat yang pintar, cerdas, cepat tanggap kalau dipanggil dengan sebutan dokter malah senang. Seharusnya kita memperkenalkan diri sebagai diri sendiri, sehingga masyarakat mengetahui ternyata perawat berbeda dengan dokter dan sejajar dengan profesi lainnya.

Perawat sekarang sudah jauh lebih canggih, pintar, dan dilengkapi dengan skill yang tinggi. Sudah saatnya kita menghargai diri kita secara layak.
Share this article :

1 comments:

  1. Jangankan di rumah sakit, saya sendiri yang lagi belajar akupuntur di sebuah klinik akupuntur tetap dipanggil dokter.

    Persepsi masyarakat untuk pengobat memang dokter, kalau yang merawat namanya suster. Mengapa masyarakat masih belum tahu kalau perawat laki-laki tetaplah perawat? Karena susah kalau memanggil dengan 3 suku kata "pe-ra-wat", apalagi 1 suku kata "ners", kan lebih enak "dok-ter" atau "man-tri". Jadi satu-satunya cara, ya sosialisasikan profesi perawat dan pelayanan keperawatan yang sebenarnya. Tidak malu menyebukan sebagai Ners Hendi ketika berkenalan, atau menuliskannya di kartu nama.

    Dalam hal pengakuan pelayanan,saya punya pengalaman hidup yang mungkin dapat dianalogikan. Pelayanan itu ibarat Zat adiktif, dapat membuat orang ketagihan. Contohnya, ketika saya tinggal di komplek perumahan baru. Mulanya pedagang sayur keliling hanya satu-dua orang saja yang beli. Lama kelamamaan jadi satu gang terus satu RT. Suatu ketika dia tidak berjualan. Satu RT panik dan akhirnya, pada tidak sarapan tadi. Nah Jika kita dapat berperan seperti pedagang tadi, pasti pelayanan "keperawatan" akan dikenal. Masalanya, siapa yang mau berkorban, membuka pelayanan keperawatan dan siap merugi untuk jangka waktu yang belum pasti?

    Itu menurut saya.

    ReplyDelete

kata pepatah: "TAK KOMEN TANDA TAK MAMPU"

Mari saling membantu sesama blogger dengan memberikan komentar yang baik dan benar. Jika ingin bersaing di halaman pertama Hasil Pencarian Search Engine, mari kita lakukan persaingan sehat dengan tidak menghancurkan blog blogger lain melalui komentar spam.

Terima Kasih Sobat Sudah:
1. Berkomentar Dengan Sopan
2. Tidak Memasukkan Link Aktif Dalam Form Komentar
3. Berkomentar Sesuai Artikel/Postingan

Admin akan menghapus komentar yang tidak sesuai dengan 3 point di atas!

Coretan

 
Support : Indonersia Center | Rizki Viar |
Copyright © 2013. Indonersia Center - All Rights Reserved
Template re-design by Indonersia Center
Proudly powered by Blogger