Home » » Cephalopelvic Disproportion

Cephalopelvic Disproportion

Written By Rizki A. Noviar on Tuesday, September 4, 2012 | 21:55

Indonersia - Cephalopelvic Disproportion




A.  PENGERTIAN


Cephalopelvic   disproportion   (CPD)  adalah  suatu  bentuk  ketidaksesuaian antara ukuran kepala janin dengan panggul ibu. (Reader, 1997).
Seksio sesarea yaitu suatu tindakanuntuk melahirkan bayi dengan berat diatas 500 gram, melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh.


Seksio  sesarea  yaitu  suatu  cara melahirkan  janin dengan  membuat  sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina untu melahirkan janin dari rahim (Mochtar, 1998).
Jadi post sektio caesarea dengan CPD adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk melahirkan  janin  melalui  sayatan  pada  dinding  uetrus  dikarenakan ukuran kepala janin dan panggul ibu tidak sesuai.


 Cephalopelvic Disproportion


B.  Etiologi


Menurut Hamilton (1999) CPD disebabkan oleh :


1.   Panggul ibu yang sempit.
2.   Ukuran janin yang terlalu sempit


Sedangkan penyebab dilakukan seksio sesarea menurut Prawirohadjo (2000) yaitu:


1.   Disproporsi kepala panggul (CPD)
2.   Disfungsi Uterus
3.   Plasenta Previa
4.   Janin Besar
5.   Ganiat Janin
6.   Letak Lintang


(Mochtar , 1998) menambahkan penyebab lain , yaitu:

1.   Ruptur Uteri mengancam

2.   Partus lama , Partus tak maju
3.   Preeklamsi dan hipertensi
4.   Mal presentasi janin
♣   Letak lintang
♣   Letak bokong
♣   Presentasi dahi dan muka
♣   Presentasi rangkap


C.  Macam-macam Sectio Caesacia


Tipe-tipe Caesaria yaitu (Oxorn , 1996)


a Segmen  bawah = insisi melintang


Insisi  melintang  segmen  bawah  uterus,  merupakan   prosedur  pilihan, abdomen dibukadan uterus disingkapkan. Lipatan vesica urino peritoneum yang terletak dekat sambungan segmen atas dan bawah uterus ditentukan dan  disayat  melintang  :  lipatan  ini  dilepaskan  dari  segmen  bawah  dan sama-sama  kandung  kemih  didorong  serta  ditarik  agar  tidak  menutupi lapang pandangan.
Pada segmen bawah uterus dibuat insisi melintang yang kecil luka insisi daerah  pembuluh  darah  uterus,  kepala  janin  yang  pada  sebagian  besar kasus terletak terbalikinsisi diektrasi atau didorong,  diikuti oleh bagian tubuh lainnya dan kemudian plasenta serta selaput ketuban.
b.   Segmen bawah = insisi membujur
Cara membuka abdomen dan menyingkap uterus sama seperti insisi melintang, insisi membujur disebut dengan skapal dan dilebarkan dengan gunting tumpul untuk menghindar cidera pada bayi.
c Sectio caesaria klasik
Insisi longitudinal digaris tengah dibuat dengan skapal ke dalam dinding anterior uterus  dan  dilebarkan  ke  atas  serta  dibawah  lengan  dengan gunting tumpul. Diperlukan luka insisi yang lebar karena bayi sering dilahirkan  dengan  bokong dahulu,  janin  serta  olasenta  dikeluarkan  dan uterus ditutup dengan jahitan tiga lapis.
d.   Sectio caesaria ekstraperitonal
Pembedahan ekstraperitoneal dikerjakan untuk menghindari perlunya histerektomi pada kasus-kasus yang mengalami infeksi luas dengan mencegah peritonitis yang sering bersifat fatal
D.  Komplikasi akibat pembedahan SC menurut Muchtar (1998), yaitu :


1.   Infeksi puerperal (nifas)

Disebabkan karenahaigine vulva menurun


♣   Ringan : dengan kenaikan suhu beberapa hari saja

♣   Sedang: dengan  kenaikan suhu yang lebih tinggi,  disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung.
♣   Berat : dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik.


2.   Pendarahan, disebabkan karena : banyaknya pembuluh darah yang terputus dan terbuka, atonia uteri, dan perdarahan pada pelepasan plasenta.
3.   luka kandung kemih
4.   Kemungkinan ruptur uteri spontan pada kehamilan mendatang.




E.  Post partum


a Post  partum  adalah  masa  pulih  kembali  mulai  dari  persalinan  selesai sampai alat-alat kandungan kembali sepeti pra hamil, lama masa nifas 6
8 minggu (Mochtar, 1998).


b.   Adaptasi Fisiologis dan psikologis post partum


1.   Adaptasi Fisiologis post partum (Hamilton, 1995)


a Tanda-tanda Vital


Suhu 24 jam pertama meningkat < 38oC akibat adanya dehidrasi dan  perubahan  hormonal,  relaksasi  otot.  Dan  normal  kembali dalam 24 jam pertama. Bila kenaikan suhu lebih dari 2 hari maka pasien menunjukkan adanya sepsis puerperalis, infeksi traktus irunarius,  endometris,  mastitis,  pembekakan  payudara  pada  hari kedua dan ketiga yang dapat meningkatkan suhu pasien.
b.   Sistem kardiovaskuler


Dapat terjadi bradikardi setelah persalinantachicardi bisa terjadi merefleksikan atau menunjukkan adanya kesulitan dalam proses persalinan atau persalinan lama, perdarahan yang berlebih (Hemoragic post partum).



c Tekanan darah


Tekanan darah normal setelah melahirkan, penambahan sistolik 30 mmHg  atau  penambahan   diastolik  15  mmHg  khususnya   bila disertai  adanya  sakit  kepala  atau  gangguan  penglihatan menunjukkan preeklamsia.
d.   Laktasi


Produk  ASI mulai hari ke-4 post partum,  pembesaran  payudara, putting   susu   menonjol koostrum   berwarn keputihan,   areola mamae berwarna hitam atau mengalami hiperpigmentasi.Dan kembali normal setelah minggu pertama.
e Sistem gastrointestinal


Pengendalian fungsi defekasi lambat dalam minggu pertama post partum  dan  kembali  normal  setelah  minggu  pertama,  peristaltik usus terjadi penurunan segera setelah bayi lahir.
f Sistem Muskuloskeletal


Terjadi peregangan dan penekanan otot, oedema ekstermitas bawah akan berkurang dalam minggu pertama.
g Sistem perkemihan


Kandung kemih oedema dan sensitivitasnya menurun sehingga mengakibatkan over distention.
h.   Sistem reproduksi


Involusio uteri terjadi segera setelah bayi lahir dan prosesnya cepat setelah melahirkan yang terdiri dari :








a 1   3  hari  Tinggi  Fundus  Uteri  teraba  3  jari  di  bawah umbilieus.
b.   3 7 hari Tinggi Fundus Uteri teraba 1 jari di atas simpisis pubis.
c 7 9 hari Tinggi Fundus Uteri tidak teraba


setelah melahirkan uterus membersihkan dirinya dengan debris yaitu pengeluaran lochea.
Macam-macam lochea berdasarkan jumlah dan warnanya


1)  Lochea rubra = 1 3 hari warna merah dan hitam, terdiri dari     sel    desidua,    verniserosa,    rambut    lanuga,    sisa mekonium, sisa darah.
2)  Lochea sanguinolenta= 3 7 hari berwarna putih campur merah kecoklatan.
3)  Lochea serosa = 7 14 berwarna merah kekuningan


4)  Lochea alba = setelah hari ke-14 berwarna putih


Akibat persalinan menyebabkan oedema dan luka pada dinding  vagina  dan  akan  kembali  normal  pada  minggu ketiga, perubahan pada servic, setelah persalinan teraba lembek   dan  adakalany miring  sebelah beberap hari setelah melahirkan, ostium menutup secara spontan.
i.    Sistem endokrin


Mengalami  perubahan  secara tiba-tiba  dalam kala IV persalinan, setelah plasenta lahir trjadi penurunanestrogen dan progesterone








prolaktin  menurun  pada wanityang tidak meneteki.  Menstruasi biasanya terjadi setelah 12 minggu post partum pada ibu yang tidak menyusui dan 36 minggu pada ibu yang menyusui.
2.   Adaptasi psikologispost partum (Hamilton, 1995)


a Fase Taking in / dependen /tergantung


Ibu  berperilaku  tergantung  pada  orang  lain,  perhatian  berfokus pada dirinya sendiri, pasif belum ingin kontak dengan bayinya, berlangsung sampai 1 2 hari.
b.   Fase talkinghold / independent


Fokus   perhatia lebih   lua termasuk   pada   bayinya mandiri, inisiatif dalam perawatan dirinya dimulai pada hari ketiga setelah melahirkan.
c Fase letting Go / mandiri


Memperoleh peran dan tanggungjawab baru, perawatan dirinya dan bayinya terus meningkat, menyadari bahwa dirinya terpisah dengan bayinya. Dimulai sekitar minggu kelima setelah melahirkan.
F.  Proses penyembuhan luka (Robbins, 1995)


1.   hari pertamapasca bedah


Setelah luka disambung dan dijahit, garis insisi segera terisi bekuan darah, permukaan  bekuan  darah ini mengering  menimbulkan  suatu kerak yang menutupi luka


2.   hari kedua


timbul dua aktivitas yang terpisah = reepitalisasi permukaan dan pembentukan  jembatan  yang  terdiri  dari  jaringan  fibrosa  yang terhubungkan  kedua  tepi celah  sub epitel,  jalur-jalur  tipis sel menonjol dibawah permukaan kerak, dari tepi epitel menuju sentral. Dalam waktu
48  tonjolan  ini  terhubung  satu  sama  lain  dengan  demikian  luka  telah tertutup epitel.
3.   hari ketiga pasca bedah


Respon radang akut mulai berkurang dan neutrofil sebagian besar diganti oleh makrofag yang membersihkan tepi luka dari sel-sel yang rusak dan juga pecahan fibrin.
4.   hari kelima


Celah insisi biasanya terdiri dari jaringan granulosa yang kaya pembuluh darah dan longgar dapat dijumpai serabut-serabut kolagen disana-sini.
5.   akhir minggu pertama


luka telah tertutup oleh epidermis dengan ketebalan yang lebih kurang normal
6.   Selama minggu ke-2


Kerangka fibrin sudah lengkap dan jaringan perut masih tetap berwarna merah  cerah  sebagai  akibat  peningkatan   vaskularisasi reaksi  radang hampir seluruhnya.








7.   akhir minggu ke-2


setelah jaringan dasar paruttelah terjadi suatu proses yang panjang (menghasilkan  jaringan  parut  yang lebih mudah sebagai  akibat  tekanan pada pembuluh darah, timbunankolagen dan peningkatan secara mantap daya rentang luka) sedang brjalan.


10




                     G.  Pathways








1.   Nyeri berhubungan dengan ininkontinuitas jaringan (Donges, 2001 : 388) Tujuan = nyeri berkurang
KH :


a Individu akan menyampaikan  bahwa orang lain memvalidasadanya nyeri
b.   Mengungkapkan    hilangnya    nyeri    setelah    dilakukan    tindakan, dibuktikan dengan pasien mengatakan nyeri berkurang.
Intervensi :


a Tentukan karakteristik dan lokasi nyeri


b.   Beri informasi mengenai penyebab nyeri


c Ubah posisi klien untuk mengurangi nyeri d.   Monitor tanda-tanda vital
e Ajarkan tehnik relaksasi


f.   Kolaborasi pemberian analgerik


2.   Resiko   tingg infeks berhubungan   dengan   luka   insis pembedahan


(Tucker, 1998).


Tujuan : Tidak terjadi infeksi


KH :


a.   Individu  akan mendemonstrasikan  pengetahuan  tentang faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan pontensial terhadap infeksi
b.   Individu akan melaksanakan  tindakan pencegahan yang sesuai untuk mencegah infeksi.




Intervensi


a Kaji peningkatan suhu, nadi , respirasi sebagai tanda infeksi b.   Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan
c Observasi  insisi  terhadap  tanda  infeksi  :  kemrahan,   nyeri  tekan, bengkak pada insisi, peningkatan suhu.
d.   Ganti pembalut luka sesuai kebijakan RS. e Kolaborasi dalam pemberian antibiotik.
3.   Resiko  kurang  volume  cairan  berhubungan  dengan  pendarahan  pasca partum (Tucker, 1998).
Tujuan : tidak terjadi kekurangan volumecairan. Kreteria hasil (KH)
a Individu mempertahankan masukan cairan dan elektrolit


b.   Mengidentifikasi  cairan yang abnormal  dan mengganti  cairan sesuai kebutuhan
c Mempertahankan berat jenis urin dalam batas normal


Intervensi


a Beritahu pasien tentang jumlah lochea yang normal


b.   Anjurkan  untuk  menghubungi  docter  bila  pengeluaran  lochea  yang berlebihan
c Hindari   massag yang   tidak   perl pad fundus yang   dapat menyebabkan relaksasi uterus dan hemoragic.
d.   Pertahankan cairan perenteral sesuai intruksi e Ukurintaks dan Out put cairan.




4.   Kontipas berhubungan   denga penurunan   otot  abdomen,   penurunan peristaltik usus  (Doenges, 2000).
Tujuan : eliminasi kembali normal


KH  : pasien dapat BAB dengan konsistensi normal


Intervensi :


a Anjurkan klien untuk tidak menahan BAB


b.   Berikan cairan peroral 6 – 8 gelas perhari


c Identifikasi penyebab gangguan eliminasi BAB


d.   Anjurkan untuk ambulasi dini sesuai toleransi e Kolaborasi pemebrian obat pencahar
f.   Kolaborasi pemberian diit tinggi serat


5.   Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik (Doenges, 2000) Tujuan : aktivitas pasien meningkat sesuai dengan toleransi
a an toleransi


Kerterentifikasikan faktor-faktor


b.   Mengidentifikasi metode untuk mengurangi intoleransi aktivitas c Mengalami kemajuan aktivitas
d.   Mempertahankan  tekanan  darah,  nadi dan pernafasan  dalam rentang yang telah ditentukan sebelumnya selama sakit.
Intervensi :


a Evaluasi respon klien terhadapaktivitas


b.   Ajarkan teknik mobilisasi dini sesuai indikasi c Bantu klien dalam melakukan aktivitas




d.   Motivasi klien dalam mengikuti latihan ambulansi


e Kolaborasi dengan fisioterapi dalam latihan ambulasi


6.   Kurang perawatan  diri berhubungan  dengan  ketergantungan,  kehilangan mobilitas (Doengoes, 2000).
Tujuan : Gangguan perawatan diri tidak terjadi


Kreteria hasil


a Menunjukka aktivitas  perawata diri  dalam  tingkat  kemampuan pribadi
b.   Mendemonstrasikan    perubahan    tehnik    atau    gaya    hidup    untuk memenuhi kebutuhan diri.
Intervensi :


a Kaji faktor penyebab atau yang berperan


b.   Tentukan  kemampuan  saat  ini  (skala  0   4)  dan  hambatan  untuk partisipasi dalam perawatan
c Ikutsertakan pasien dalam fermulasi rencana perawatanpada tingkat kemampuan
d.   Dorong  perawatan  diri,  bekerja  dengan  kemampuan  yang  sekarang jangan menekan pasien di luar kemampuannya.
e Sediakan  waktu adekuat bagi pasien untuk melengkapi  tugas, miliki harapan untuk peningkatan dan bantu sesuai kebutuhan.




7.   Kurang  pengetahuan  mengenai  perawatan  diri  dan  bayi  berhubungan dengan kurang informasi. (Doengoes, 2000)
Tujuan    :    pasien    dapat    mendemonstrasikan    dan    mengungkapkan pemahaman diri tentang post partum
KH :


a pasien memahamicara-cara perawatan diri dan bayi b.   pasien mampu mendemonstrasikan
intervensi :


a kaji tingkat pengetahuan pasien


b.   Beri informasi tentang perawatan diri dan bayi  
c Beri pendidikan kesehatan
d.   Dorong pasien untuk melakukan secara mandiri


e Libatkan keluarga ketika memberikan pendidikan kesehatan
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

kata pepatah: "TAK KOMEN TANDA TAK MAMPU"

Mari saling membantu sesama blogger dengan memberikan komentar yang baik dan benar. Jika ingin bersaing di halaman pertama Hasil Pencarian Search Engine, mari kita lakukan persaingan sehat dengan tidak menghancurkan blog blogger lain melalui komentar spam.

Terima Kasih Sobat Sudah:
1. Berkomentar Dengan Sopan
2. Tidak Memasukkan Link Aktif Dalam Form Komentar
3. Berkomentar Sesuai Artikel/Postingan

Admin akan menghapus komentar yang tidak sesuai dengan 3 point di atas!

Coretan

 
Support : Indonersia Center | Rizki Viar |
Copyright © 2013. Indonersia Center - All Rights Reserved
Template re-design by Indonersia Center
Proudly powered by Blogger